Episode 7

May 12, 2023

00:27:50

The Testimony of Pak Octavianus

The Testimony of Pak Octavianus
Lance Lambert Ministries Podcast
The Testimony of Pak Octavianus

May 12 2023 | 00:27:50

/
View Full Transcript

Episode Transcript

[00:00:02] Speaker A: Maafkan [00:00:22] Speaker B: saya akan bicara dalam bahasa Indonesia lagi. Karena di Inggris saya tidak berani berbahasa [00:00:32] Speaker A: Inggris karena setahu [00:00:39] Speaker B: semua saudara sini berbahasa Inggris dengan baik sekali tetapi di negara-negara asia lainnya saya dengan keberanian tuhan saya [00:00:52] Speaker A: berhutba dalam bahasa inggris sedara-sedaraku [00:01:02] Speaker B: dan tuhan [00:01:03] Speaker A: yesus krisis saya akan meneruskan hutba tadi pagi Teruskan dengan kata-kata Tuhan yang saya bawa pagi ini. Tentang pemulihan dalam masa kita. Tapi saya rasa saya harus memberikan kata-kata ujian terlebih dahulu. [00:01:25] Speaker B: karena saya sendiri juga anak lahir dari [00:01:27] Speaker A: revival karena [00:01:33] Speaker B: saya sendiri juga baru mengalami pembaruan Tuhan pada dua belas tahun yang [00:01:37] Speaker A: lalu saya [00:01:43] Speaker B: lahir dalam suatu keluarga yang [00:01:45] Speaker A: sangat miskin dan sesudah saya berumur enam [00:01:49] Speaker B: tahun saya melihat saya memasuki suatu kebaktian [00:01:53] Speaker A: Ketika saya berusia enam tahun, saya ingat ketika saya masih kecil, saya pergi ke dapur dan mendengar seseorang berkhutbah. Kemudian ketika saya pulang pada hari itu, saya masih ingat, ada matahari yang turun dengan cara yang indah, dan saya merasa kehadiran Tuhan Yesus pada waktu itu dan saya akan menjadi seorang hamba Tuhan tapi kemudian saya meninggalkan penglihatan ini dan [00:02:39] Speaker B: saya [00:02:40] Speaker A: mulai mendengar dalam dunia pendidikan dan kemudian [00:02:46] Speaker B: hari saya menjadi kapal SGA di Indonesia [00:02:49] Speaker A: dan kelihatannya itu sungguh baik Jadi, tentu saya telah mencapai sesuatu. Sesuatu yang baik. Dan kemudian saya menjadi ketua angkatan muda Kristen di Indonesia. [00:03:13] Speaker B: Dan dengan demikian, sebenarnya kelihatannya berhasil di dalam dunia ini. Tetapi di mata Tuhan Yesus Christus, saya sedang jauh daripadanya. Nah, saya mau mencoba juga berbuat seperti tadi pagi saya berkata, seperti madu. [00:03:37] Speaker A: Saya mulai juga berkhutbah untuk mahasiswa. [00:03:44] Speaker B: Tahun 51 saya mulai berkhutbah untuk mahasiswa dan untuk gereja-gereja. [00:03:48] Speaker A: Pada tahun 1951, saya mulai berkhutbah terhadap para pelajar dan bahkan terkadang di dapur. Tetapi saya tidak berkhutbah terhadap sebuah khutbah dari Nabi Isa. Saya berkhutbah terhadap pengetahuan dan politik saya sendiri. [00:04:04] Speaker B: Dalam khutbah saya, saya menyusun semuanya dengan baik. Dengan bahasa yang tinggi. [00:04:12] Speaker A: dan dengan bahasa kadang-kadang mengerti filsafat dan [00:04:19] Speaker B: saya mau merasa sudah kebaktian, saya mau [00:04:21] Speaker A: menantikan orang berkata kepada saya oh, [00:04:29] Speaker B: hutbahnya [00:04:30] Speaker A: bagus pada hari ini oh, penuh dengan [00:04:34] Speaker B: bahasa yang tinggi-tinggi Orang-orang tidak tahu itu. Tapi Tuhan Yesus tahu itu. [00:04:45] Speaker A: Apa yang benar-benar terjadi pada situasi saya? [00:04:47] Speaker B: Karena Tuhan tahu, Saya hanya membuat madu untuk menutup dosa-dosa. [00:04:57] Speaker A: Dan berlangsung selama tujuh tahun. [00:05:04] Speaker B: Oh, bagaimana bisa orang berbuat demikian lamanya tujuh tahun? Dan akhirnya Tuhan Yesus mendapatkan saya. [00:05:18] Speaker A: Pada tahun 1957, seorang dari Dr. [00:05:23] Speaker B: Roland Branda Amerika datang ke kota kami. [00:05:26] Speaker A: seorang Amerikan, Dr. Ronald Brown, mengunjungi kota saya dan dia memiliki perjumpaan evangelis di kerajaan di mana kadang-kadang saya berkhutbah sebagai penjaga kerajaan, saya harus bertanggung jawab untuk perkhidmatan ini dan hari pertama Tentara Nicodemus yang datang kepada Yesus Kristus. [00:05:59] Speaker B: Dia bertanya kepada Tuhan Yesus. Oh Tuhan engkau lah tentu datang dari Allah. [00:06:05] Speaker A: Oh, saya tahu Anda seorang guru yang datang dari Tuhan. Karena Anda telah melakukan hal-hal yang hebat. Tapi apa yang mengatakan Tuhan kepadanya? Ada sebuah keajaiban yang jauh lebih hebat. Anda harus dilahirkan lagi oleh Roh Kudus. Dan Nicodemus mencoba untuk memahami kata-kata-kata-kata-kata-kata-kata-kata-kata-kata-kata-kata-kata-kata-kata-kata-kata-kata-kata-kata-kata-kata-kata-kata-kata-kata-kata-kata-kata-kata-kata-kata-kata-kata-kata-kata-kata-kata-kata-kata-kata-kata-kata-kata-kata-kata-kata-kata-kata-kata-kata-kata-kata-kata-kata-kata-kata-kata-kata-kata-kata-kata-kata-kata-kata-kata-kata-kata-kata-kata-kata [00:06:45] Speaker B: Tuh [00:06:45] Speaker A: yang katakan tidak Apa yang dilahirkan daripada tubuh-tubuh juga? [00:06:53] Speaker B: Dan apa yang dilahirkan daripada roh kudus? [00:06:55] Speaker A: Tidak ada yang kau heran Dan kau wajib lahirkan kembali daripada roh kudus Dan [00:07:06] Speaker B: dia berkata, jangan memikirkan kedudukan secara dalam [00:07:09] Speaker A: kebahtian ini dan dia berkata, jangan berpikir tentang posisimu jangan berpikir tentang pengetahuan inteleksimu tetapi, berani untuk berdiri di depan Tuhan seperti yang Anda lakukan jika Anda benar-benar dilahirkan oleh Roh Kudus maka Anda mengetahuinya jika tidak, mengaku Bahawa Kudus bicara pada saya. [00:07:43] Speaker B: Dan kau belum lahir kembali dari Bahawa Kudus. Meskipun sudah tujuh tahun yang kau berkhutbah. Tapi itu suara Tuhan datang dekat dunia kanan. [00:07:54] Speaker A: dan kata-kata Tuhan datang ke telinga kiri dan ke telinga kiri datang suara syaitan [00:08:00] Speaker B: oh dia berkata, kau seorang yang penting [00:08:02] Speaker A: disini orang-orang tau yang kau biasa berkhutbah maka jangan berbuat sesuatu disini dan saya memberi telinga kepada suara syaitan dengan demikian [00:08:17] Speaker B: saya pulang ke rumah dengan hampa Saya tidak bisa bicara sepanjang jalan ke rumah. Istri saya bertanya kepada saya. Mengapa kau diam? Saya katakan sebab dia bicara sesuatu yang saya kurang senang. Tapi hari kedua saya datang lagi. [00:08:45] Speaker A: Dan lagi, ini adalah tema yang sama, jauh lebih jelas. Ini adalah satu-satunya jalan untuk melihat kerajaan surga. [00:08:56] Speaker B: Karena dengan tubuh ini tidak bisa masuk dalam kerajaan surga. [00:09:02] Speaker A: Kita berkata engkau harus lahirkan kembali daripada roh kulus. [00:09:10] Speaker B: Supaya engkau dapat memasuki kerajaan surga. Siapakah engkau dalam kebahagiaan ini? Engkau harus menghadapi pertanyaan ini. Karena inilah jalan keselamatan bagimu. Dan pada malam itu Tuhan bicara lebih [00:09:31] Speaker A: keras kepada saya lagi. [00:09:36] Speaker B: Tapi sekali lagi juga Ibus bicara kepada saya. Ingatlah engkau seorang yang dikenal disini. [00:09:45] Speaker A: Pada waktu itu kurang lebih 1200 orang [00:09:48] Speaker B: hadir dalam kebaktian itu. Nah, memang mulai saya melihat orang-orang dalam kebaktian itu. Maka saya mulai merasa malu kalau saya maju ke muka. Maka saya melawan suara Tuhan. Oh, ketika orang ditandang untuk terima Tuhan Yesus, saya menahan diri. [00:10:13] Speaker A: saya menolaknya dan saya kembali ke rumah [00:10:16] Speaker B: lagi kedua kali dengan hati yang berat [00:10:18] Speaker A: sekali dan saya pulang ke rumah dengan hati yang lebih berat daripada hari sebelumnya [00:10:22] Speaker B: itu adalah salah satu malam yang paling [00:10:27] Speaker A: berat yang saya alami dalam hidup saya saya tidak bisa tidur sepanjang malam itu [00:10:33] Speaker B: dan saya bilang kepada istri saya, besok pagi saya tidak mau kembali lagi besok hari saya tidak kembali lagi dalam kebaktian [00:10:38] Speaker A: itu dan saya berkata kepada istri saya, ini adalah kali terakhir yang anda melihat saya dalam perkhidmatan ini Tetapi istri saya berkata kepada saya, Angkow harus pergi, karena [00:10:48] Speaker B: Angkow yang mengatur kebaktian itu. Maka saya datang lagi hari ketiga. Dan pada hari ketiga dia bicara perkara yang lebih dalam lagi. Dia bicara tentang Matthew Fasol 18. [00:11:06] Speaker A: Itulah pertanyaan murid-murid kepada Tuhan Yesus. [00:11:22] Speaker B: Siapakah yang menjadi besar dalam kerajaan surga? [00:11:25] Speaker A: Siapa yang akan menjadi yang terbesar di Kerajaan Tuhan? Lalu biarkan kami mengambil seorang anak kecil dan menempatkan anak itu di depan mereka. Dan berkata kepada mereka, Orang yang ingin menjadi yang terbesar di negeri Tuhan, harus menjadi seperti anak kecil ini di depanmu. Mengapa dia mengambil anak kecil? [00:11:51] Speaker B: Mengapa dia tidak mengambil seorang profesor? Dan dia berkata dia adalah orang besar dalam kerajaan surga. Mengapa dia tidak mengambil seorang raja dalam dunia ini? Anda berkata, inilah orang yang akan menjadi besar dalam kerajaan surga. Mengapa tidak diambilnya seorang kaya raya dalam dunia ini? Anda berkata, inilah orang yang akan menjadi besar dalam kerajaan surga. Tidak Sudaraja. Diambilnya seorang anak kecil. Dan dia berkata, Orang yang besar dalam [00:12:27] Speaker A: kerajaan serga, Ialah orang yang merendahkan diri, Menjadi seorang kecil di hadapan Tuhan. [00:12:39] Speaker B: Oh, dan itulah firman Tuhan yang tiup pada hati saya. bahwa pada malam itu saya harus merendahkan [00:12:46] Speaker A: diri seperti seorang anak kecil saya [00:12:53] Speaker B: ingat saya dulu di tempat yang paling belakang [00:12:54] Speaker A: sekali tapi ketika dia menggunakan orang untuk terima Tuhan Yesus Kristus oh saya merasa roh Saya merasakan semacam semangat Tuhan menarik saya dan menarik saya ke depan. [00:13:11] Speaker B: kudus Dan saya berdiri kembali. [00:13:19] Speaker A: Dan ketika saya berdiri kembali, saya menangis. [00:13:23] Speaker B: Mengapa saya menangis? Pertama kali saya memandang kepada artis Salih Jesus. Pertama kali dosaku sungguh diambil oleh Salih Jesus. Oh saya melihat pada malam itu betapa besar dosaku. [00:13:43] Speaker A: Dan betapa besar kasih Yesus Christus. [00:13:53] Speaker B: Karena itu saya menangis. Tapi sesudah saya kembali dari kebaktian itu. [00:13:58] Speaker A: Ketika saya pulang dari pekerjaan itu, hatiku penuh dengan kebahagiaan. Saya pulang seperti anak kecil, hanya berlari, penuh dengan kebahagiaan. Dan istri saya berkata kepadaku, kenapa? Apa yang terjadi padamu? Karena di dapur, saya melihatmu menangis. Karena saya berkata, semuanya menjadi baru bagi saya. oh bunga-bunga menjadi bagus buat saya pohon-pohon menjadi baru buat saya istri katakan saya [00:14:35] Speaker B: tidak ada yang menjadi baru istriku bilang, [00:15:00] Speaker A: aku ingin menulis di englis, aku tidak tahu idiomnya, maaf Tidak ada yang benar. Isteri saya bilang, tidak. Tidak ada yang benar. Sudah menjadi baru. Saya berkata, ya, itu benar. Apa yang menjadi baru? Hati saya sudah menjadi baru. Karena Tuhan Jesus Christ telah memasuki hati saya. [00:15:23] Speaker B: Dan sejak itulah Tuhan memperbarui hidup saya. [00:15:26] Speaker A: Dan inilah permulaan revolusi Tuhan Jesus Christ yang membuat hati saya menjadi baru. [00:15:32] Speaker B: kemudian hari itu nama anggel saya keluar [00:15:34] Speaker A: dari pekerjaan saya dan [00:15:43] Speaker B: itu nama anggel saya untuk mulai berkhutbah di pinggir-pinggir jalan [00:15:46] Speaker A: dan [00:15:51] Speaker B: mengumpulkan orang-orang masyarakat Islam tiap minggu dan berkhutbah buat mereka dan saya mengumpulkan [00:15:57] Speaker A: pelajar muslim yang saya kenal di sekolah saya dan saya berkhutbah kepada mereka setiap hari Sabtu dan Bapak Sholiman juga membantu [00:16:09] Speaker B: saya dan [00:16:15] Speaker A: saya bergembira sekali, di sekolah kami setiap tahun, sekitar 50 orang muslim telah berubah dan diberkati dengan nama Tuhan [00:16:24] Speaker B: Saya pikir itu adalah pekerjaan yang besar. Tapi Tuhan mau berbuat perkara lain dalam hidup saya. Dalam suatu hari kami dapat kunjungan dari Ibu Joy Ridhoff. dan dia berbicara dalam kebaktian dimana untuk [00:16:46] Speaker A: mahasiswa islam itu dan [00:16:52] Speaker B: dia berbicara tentang [00:16:53] Speaker A: aku inilah pintu dan firman tentu itu [00:16:58] Speaker B: sampai pada hati kami [00:17:02] Speaker A: Bahwa saya hanya [00:17:04] Speaker B: tidak cukup disini, makanya saya harus masuk, masuk terus ke dalam pintu. [00:17:10] Speaker A: Maksudnya [00:17:17] Speaker B: kebaktian saya minta kepada Pak Soeneman. [00:17:19] Speaker A: dan setelah perkhidmatan ini, saya datang ke Brother Shoineman dan saya berkata kepadanya, datang Brother, saya ingin berdoa bersama anda di pejabat saya dan saya berkata, apa yang harus saya lakukan sekarang? ini adalah pekerjaan yang hebat yang saya [00:17:39] Speaker B: lakukan karena saya memiliki 2.000 [00:17:44] Speaker A: pelajar untuk yang saya bertanggung jawab Dan saya berpikir, itu sudah pekerjaan yang besar. Tapi, [00:17:52] Speaker B: Pak Senon berbicara kepada saya, Seraharus yang [00:17:56] Speaker A: paling penting adalah dalam pusat kehendak Tuhan. [00:18:03] Speaker B: Bukan pekerjaan besar. Dan kemudian dia mengambil, membawa saya kepada satu keputusan. [00:18:14] Speaker A: menurut kejadian 12 ayat yang satu dimana Abraham [00:18:21] Speaker B: dipanggil keluar dari negerinya masuk kepada tanah [00:18:24] Speaker A: yang dia tidak tahu lalu [00:18:30] Speaker B: saya menulis surat kepada pemerintah saya melepaskan semua jabatan [00:18:39] Speaker A: Pemerintah tidak sedia memberi kelepasan. [00:18:46] Speaker B: Tapi saya tulis kedua kali, saya bilang, saya tinggalkan pekerjaan ini. Dan saya terus tinggalkan. dan sudah saya tinggalkan, mereka masih membayar gaji [00:18:59] Speaker A: saya selama 6 bulan tapi Tuhan menolak untuk mengambil uang itu dan saya hidup daripada iman kepada Yesus dan [00:19:18] Speaker B: saya mulai masuk di sekolah Alkitab di Batu Dan saat itulah saya mulai belajar mengabalkan Injil di pinggir-pinggir jalan. Dan Tuhan memimpin saya ke tempat-tempat di seluruh Indonesia. Maka saya sebenarnya pengkhotbah pinggir jalan. Atau pengkhotbah di pasar-pasar. Inilah bertahun-tahun saya belajar pengkhotbah itu. Nambar [00:19:58] Speaker A: tahun yang 66 gereja-gereja membuka pintu kembali. Dimana [00:20:09] Speaker B: krusyit yang pertama dibuka, dimana 52 gereja sekaligus membuka pintu dan saya berhutbah. Itulah jalan Tuhan dalam hidup saya. Ini [00:20:27] Speaker A: adalah jalan Tuhan dalam hidupku. Dan setelah itu, Tuhan telah membawa saya ke luar Indonesia. Untuk mengembara ke negara-negara asia. Dan sekarang saya pertama kali dibawa oleh Yesus ke Eropa. Apa [00:20:44] Speaker B: yang paling penting di sini? Saya pikir berarti buat kami semua juga. Yaitulah [00:20:51] Speaker A: tiga perkara. Pertama [00:20:56] Speaker B: kita sungguh harus tahu akan pengalaman kelahiran baru. Karena [00:21:05] Speaker A: itulah jalan untuk melihat kerajaan surga. Tapi jalan untuk itulah jalan merendahkan diri. Menjadi [00:21:22] Speaker B: seorang anak kecil lagi di hadapan Tuhan. Apakah sudah sedia menjadi anak kecil? Sedia direndahkan oleh Tuhan? Seringkali kita tidak sedia. Tapi kalau kita sedia direndahkan. [00:21:41] Speaker A: Tuhan [00:21:41] Speaker B: akan mengangkat kita kembali. Dalam rencananya kemudian hari. Kedua, kita harus sedia mendengar suara Tuhan. Supaya [00:21:58] Speaker A: kita dapat berjalan menurut kehendak Tuhan. Ketiga, kita harus taat kepada cara Tuhan dalam hidup kita. Bukan [00:22:18] Speaker B: pekerjaan yang besar. [00:22:21] Speaker A: Saya merasa pada waktu ini juga. Bahaya karena kita selalu berkhutbah pada ribuan orang. Dalam [00:22:33] Speaker B: krusyet di Indonesia ribuan-ribuan orang. Di Jerman juga banyak orang. [00:22:44] Speaker A: Dan [00:22:44] Speaker B: kebanyakan orang sudah datang dan siap duduk dengan baik. Dan [00:22:48] Speaker A: saya berpikir, Tuhan tolonglah saya. [00:22:56] Speaker B: Jangan sampai saya mau terikat kepada hodlah, kepada [00:22:58] Speaker A: orang-orang, ribuan orang. Malah ingin berilah saya satu hati. Yang [00:23:11] Speaker B: senantiasa mencapai seorang yang berdosa, membawa dia [00:23:17] Speaker A: kepada Yesus Kristus. Itulah [00:23:21] Speaker B: rahasia mengabarkan Injil. Tahun lalu saya berada di kot di Malaysia. Tahun [00:23:29] Speaker A: lalu, saya berkunjung ke Malaysia. Dan tentu saja, di Malaysia, Anda tidak bisa berkhutbah dalam krusis. Tuhan, tolong saya. Kami berdoa di hotel. [00:23:42] Speaker B: Kami [00:23:42] Speaker A: berkumpul bersama seorang pastur Jepang yang bekerja bersama saya di Indonesia. Dan saya berkata ke adik Jepang, tentu untuk mengabarkan ingin kita tidak boleh tinggal di hotel disini lah Tuhan mengajar kami Jalan [00:24:06] Speaker B: untuk mengabarkan Injil. Itulah masuk dalam taksi-taksi. Karena pemerintah Malaysia melarang orang mengabarkan Injil kepada orang Malaysia di rumah. Dan datang kunjungi mereka di rumah. dan [00:24:25] Speaker A: juga dibatalkan untuk menjalankan pemeriksaan rumah tetapi undang-undang negara tidak mengatakan apa-apa mengenai berkhutbah dalam taksi jadi saya berkata kepada Bapak Jepang, biarkan kami pergi setiap hari dan hanya masuk ke taksi ketika kami masuk ke taksi, kami tidak tahu ke mana [00:24:45] Speaker B: kami pergi dalam taksi Indonesia biasanya di [00:24:47] Speaker A: Malaysia kurang lebih 6-7 orang maka [00:24:54] Speaker B: kalau kami masuk 7 orang saya suruh dia [00:24:56] Speaker A: berdoa dan saya akan berkhutbah mengapa saya berkhutbah? karena [00:25:03] Speaker B: saya tau bahasa Indonesia sama dengan bahasa [00:25:04] Speaker A: Malaysia maka dengan demikian tiap hari saya [00:25:11] Speaker B: berkhutbah di Malaysia Oh, dan Tuhan memberkati pelayanannya. Mula-mula saya tidak pikir bahwa begitu diberkati Tuhan. Tapi [00:25:27] Speaker A: setelah saya kembali ke Indonesia, saya terima [00:25:31] Speaker B: surat-surat dari mereka di dalam taksi-taksi itu. [00:25:38] Speaker A: Mereka [00:25:38] Speaker B: tanggal misi untuk terima Tuhan Yesus. Kirimlah [00:25:43] Speaker A: Alkitab kepada kami. Maka [00:25:46] Speaker B: kami sudah kirim Alkitab ke Malaysia. So [00:25:47] Speaker A: we have sent the Bibles to Malaysia. Pray for these who have received the Bible. Mari [00:25:53] Speaker B: kita berdoa sebelum saya berhutbah. Now [00:25:55] Speaker A: let us have a word of prayer too now, here, before we go on with the Lord's Word. [00:26:05] Speaker B: Oh [00:26:08] Speaker A: Lord, let Thy Holy Spirit help us all [00:26:14] Speaker B: Perangkali kami semua dalam ruangan ini orang-orang Kristen. Mungkin [00:26:18] Speaker A: kita semua menyebutkan diri kita seorang Kristian yang telah berkumpul di sini. Perangkali, [00:26:22] Speaker B: tapi seperti saya sendiri, hidup dengan madu-madu. Tapi [00:26:26] Speaker A: mungkin, seperti saya sendiri, yang datang di depan Tuhan hanya membawa manis. Biarlah [00:26:32] Speaker B: kami sadar pada hari ini. Tuhan, [00:26:35] Speaker A: bantu kami menyadari itu. Oh [00:26:36] Speaker B: Tuhan, biarkan Roh Kudus bicara pada hati saudara. Oh [00:26:39] Speaker A: Tuhan, biarkan Roh Kudus dan tolaklah suara iblis pada hari ini supaya [00:26:50] Speaker B: sungguh sampai pada kelahiran baru Mengalami kehadiran Yesus dalam hidup. [00:27:03] Speaker A: Karena [00:27:03] Speaker B: salibnya mengambil segala dosa. Dan kesukaan di dalam Tuhan Yesus Kristal. [00:27:14] Speaker A: Biarlah [00:27:18] Speaker B: kami diam sebentar. [00:27:39] Speaker A: Terima kasih telah menonton!

Other Episodes